![]() |
| (c) Bisnis Indonesia - |
Bisnis.com, JAKARTA - Setelah
sederet ekonom, baik dari dalam maupun luar negeri, kini giliran Bank
Indonesia (BI) yang mewanti-wanti beratnya tahun ini bagi pergerakan
nilai tukar rupiah.
Kendati tak menyebutkan kisaran nilainya,
Gubernur BI Agus Martowardojo mengungkapkan sejumlah pemicu utama
penekan rupiah datang dari kondisi eksternal, yakni prospek kenaikan
suku bunga Amerika Serikat atau fed funds rate yang dipastikan terjadi
tahun ini, kontraksi pertumbuhan ekonomi China, serta penurunan harga
minyak dunia. “Dolar AS akan cenderung menguat. Tentunya ini akan
berdampak bagi Indonesia dan untuk itu saya meyakini kondisi eksternal
perlu khusus kita perhatikan,” tuturnya.
Pada perdagangan akhir
pekan lalu rupiah melemah terhadap dolar AS di antara mata uang Asia
Pasifik yang mayoritas justru menguat.Bloomberg Dollar Index mencatat
rupiah terdepresiasi 0,28% menjadi Rp12.590 per dolar AS. Sementara itu,
kurs rupiah berdasarkanJakarta interbank spot dollar rate (Jisdor)
ditetapkan pada level Rp12.593 atau menguat 24 poin dibandingkan dengan
perdagangan sehari sebelumnya. Adapun sepanjang tahun lalu, rupiah
tercatat melemah sekitar 9% dari posisi penutupan terkuat, yakni
Rp11.289. Jelang tutup tahun, rupiah terdepresiasi ke level Rp12.725 dan
nyaris menyentuh Rp13.000 per dolar AS. Di sisi lain, pemerintah
menetapkan asumsi nilai tukar sebesar Rp12.200 per dolar AS dalam RAPBNP
2015.
Ekonom menilai asumsi itu terlalu optimistis mengingat
fundamental perekonomian belum kokoh dan gejolak perekonomian global
yang masih mengintai. Mayoritas ekonom dan analis memproyeksikan rupiah
akan bergerak pada kisaran Rp12.500-Rp13.000 per dolar sepanjang 2015.
Agus
menambahkan perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam mengindikasikan bahwa
kondisi tersebut kian mendekati apa yang selama ini ditargetkan oleh
Bank Sentral AS, Federal Reserve.
Di sisi lain negara maju di
kawasan Eropa serta Jepang justru tengah berjuang melawan perekonomian
yang melembam dengan guyuran stimulus moneter. Disparitas inilah yang
diyakini mengungkit dolar dan menjadikannya cenderung kuat sepanjang
2015.
Perlemahan ekonomi China dan anjloknya harga minyak membuat
situasi kian berat. Koreksi pertumbuhan ekonomi Negeri Panda yang
diproyeksikan hanya sampai ke level 7,2% disinyalir akan ikut membebani
pergerakan nilai tukar. Pasalnya China adalah salah satu rekan
dagang terbesar Indonesia. Perlambatan ini otomatis menggerus permintaan
dan pada gilirannya ikut melemahkan kegiatan ekonomi dalam negeri.
Belum
lagi depresiasi harga minyak mentah dunia sebesar lebih dari 50% sejak
medio 2014 juga turut merontokkan harga komoditas lainnya. Padahal,
ekspor Indonesia bertumpu pada komoditas mentah.
“Tadinya kita
perkirakan di tahun 2015 komoditi tidak terlalu menurun lagi, tapi
berdasarkan analisa pasar future (berjangka) komoditi utama justru makin
tertekan pada 2015,” ungkap Agus. Kondisi tersebut akan sangat
berpengaruh pada fundamental perekonomian domestik, utamanya soal neraca
perdagangan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan defisit
neraca perdagangan November 2014 mencapai US$425,7 juta. Terkait
hal tersebut, Agus mengatakan BI memandang neraca Desember akan lebih
positif seiring menurunnya importasi migas dan ekspor nonmigas yang
kembali menguat.

No comments:
Post a Comment